Jumat, 17 Februari 2012

Makalah Kepemudaan





“Pemuda : Restorasi Peran Dan Fungsi Mahasiswa sebagai Sarana Pemercepat Pembangunan Bangsa”

Oleh
YOPPY WIRA ADIE SETYANTORO

BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
KELUARGA BESAR MAHASISWA
UNIVERSITAS JAMBI

Disampaikan sebagai bahan administrasi Training Of Trainer Kementrian Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
2011


Kemerdekaan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah suatu rahmat yang tidak terhingga. Maka dari itu mahasiswa berkewajiban mengisi kemerdekaan tersebut dengan cara bertindak secara intelektual dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas pengabdiannya. Sesungguhnya mahasiswa sebagai generasi muda yang sadar akan tanggung jawab sebagai integral dari masyarakat hendaknya mampu memainkan peran strategis nya sehingga dapat memberikan konstribusi dalam mewujudkan cita-cita pembangunan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mahasiswa adalah bagian yang utuh dari masyarakat secara keseluruhan, juga sebagai salah satu komponen pemuda yang mempunyai tanggung jawab besar dalam penyelesaian permasalahan yang terjadi pada masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebagai elemen yang identik dengan kultur akademik dan pola pikir yang ideologis, mahasiswa mempunyai peran penting untuk ikut memutar roda kehidupan masyarakat. Karena dalam diri mahasiswa terdapat jiwa-jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan intelektualitas tinggi dalam membangun bangsa. Tanggung jawab dan beban yang dipikulnya tidak hanya bagi kemanfaatan diri pribadi namun juga bagi lingkungan luas di sekitarnya. Ketika, misalnya, tidak ada sedikit pun suara yang mengabarkan penderitaan rakyat maka mahasiswa yang akan menjadi salah satu pemimpin rakyat dan menyuarakan kepentingan masyarakat, catatan sejarah telah banyak membuktikannya.
Perjuangan untuk mewujudkan itu semua haruslah dilakukan secara bertanggung jawab dan teratur, seyogyanya masyarakat kampus yang menjunjung tinggi semangat idealismenya, sehingga aktifitas kemahasiswaan diharapkan mampu menjadi pilar yang menegakkan bangunan demokrasi, dan maupun corong kebebasan berekspresi dan menyampaikan aspirasi.
Sebagai komunitas muda intelektual yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, maka realitas perjuangan mahasiswa sebagai ujung tombak reformasi yang dituntut mampu menyikapi perubahan yang terjadi dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat tanpa terkontaminasi dimensi strukturalis dan fragmatisme serta selalu memperhatikan kedudukan, kekuatan gerakan dan moral sebagai tulang punggung perjuangan.
Belajar di perguruan tinggi memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan belajar di sekolah lanjutan. Karakteristik utama studi di perguruan tinggi adalah kemandirian, baik dalam mengikuti proses pendidikan maupun dalam mengelola diri sebagai mahasiswa. Institusi penyelenggara pendidikan bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan perkembangan yang memfasilitasi mahasiswa mencapai kemandirian. Berbagai program diluncurkan oleh lembaga, berbagai strategi diciptakan dan dikembangkan oleh dosen dan tenaga kependidikan, serta berbagai aktivitas dirancang dan diselenggarakan oleh organisasi atau lembaga kemahasiswaan.
Lebih dari itu, pencerahan ini akan menghidupkan daya kritis, idealisme dan daya analisis mahasiswa dalam menyikapi berbagai kejadian serta menumbuhkembangkan sentimen Mahasiswa atas berbagai, kesewenang-wenangan, pelangaran HAM dan ototiranisme kekuasaan global serta berbagai problematika kebangsaan lainnya.
Dari rahim kesadaran, analisis, daya kritis, idealisme, serta semangat perlawanan inilah terlahir gerakan moral dan gerakan sosial mahasiswa. Gerakan ini eskalasinya akan semakin pasif manakala pencerahan yang dilakukan betul-betul konseptual dan sistematis sehingga memiliki daya tular yang cepat dan dahsyat di kalangan kader mahasiswa pada umumnya.
Pada kapasitas institusi, program, strategi dan aktivitas yang dirancang harus bersinergi sehingga memfasilitasi mahasiswa berkembang secara optimal. Perkembangan yang optimal terwujud dalam bentuk prestasi akademik, tampilan perilaku profesional sesuai bidang ilmu yang ditekuni serta kemandirian sebagai pribadi yang berada dalam masa perkembangan orang dewasa. Pada kenyataanya ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa baik karena faktor internal dalam diri mahasiswa maupun faktor eksternal dari luar diri mahasiswa yang dipersepsi tidak tepat maupun tidak mampu dihadapi oleh mahasiswa.
Perilaku mahasiswa dan perlakuan terhadap mahasiswa merupakan isu yang perlu memperoleh perhatian karena menjadi wilayah publik. Laporan dan informasi media tentang perilaku mahasiswa yang dianggap tidak dewasa dan tidak menampakkan berpendidikan seperti tawuran, berperilaku anarkis, penyalahgunaan narkoba dan perilaku seksual yang tidak sehat. Prestasi akademik yang tidak optimal baik dari tingkat kualifikasi perguruan tinggi, pencapaian nilai prestasi (IPK), lamanya studi hingga waktu menunggu untuk memperoleh pekerjaan. Perlakuan terhadap mahasiswa yang dianggap membebani mahasiswa dari mulai kurangnya sosialisasi kebijakan institusi pendidikan tentang biaya pendidikan, proses pembelajaran yang tidak mengikuti kaidah-kaidah mendidik, jual beli karya ilmiah dan atau tugas akhir dan ijazah, hingga proses pembinaan yang dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan atau senior yang menimbulkan tragedi.
Orientasi mahasiswa dewasa ini sebatas pada dilema Aktifis dan Selebritis Dalam Budaya Kapitalisme Pop. Di pemandangan yang lain kita menyaksikan mahasiswa yang sibuk mengurus dirinya sendiri dan kariernya yang katanya akan membawa ke kehidupan yang lebih baik, oleh karena itu kita menyaksikan mahasiswa yang di angkat menjadi sebagai penerus Bangsa dari masyarakatnya, berusaha lulus cepat dengan IPK 4,0 dengan predikat summa cum laude, namun hanya untuk mengisi jumlah pencari kerja, barisan korban jaringan mafia penerimaan CPNS, tidak peduli masalah-masalah sosial kemasyarakatan, individualistis bahkan hedonistis.
Perguruan tinggi sebagai institusi tertinggi dalam proses pendidikan formal, generasi muda memiliki peran penentu dalam menghasilkan manusia yang berintelektual tinggi. Tidak jarang kita temukan dalam aktivitas kehidupan kita pengangguran intelektual yang justru semakin menambah beban pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan absolut yang semakin meningkat di negeri tercinta ini. Dengan sumber daya manusia yang unggul akan lebih memperoleh prioritas-prioritas dan akan menggusur peran sumber daya manusia kelas bawah, oleh karena itu tidak dapat ditawar-tawar lagi bahwa peningkatan kualitas sumber daya mahasiswa yang berdaya saing tinggi adalah sebuah keharusan bagi seorang insan akademis. Yang mana mahasiswa dituntut aktif dalam segala hal mengingat perannya yang begitu penting.
Fungsi mahasiswa yaitu agent of change, dimana mahasiswa sebagai Pelopor dan Pemercepat perubahan. Sebagai agen perubahan, mahasiswa berperan untuk melakukan suatu perubahan yang dinilai kurang baik dan mengembalikan kearah kebaikan. Fungsi ini telah dimainkan mahasiswa era reformasi, selain itu mahasiswa memiliki ide-ide cerdas yang penuh kualitas yang layak disebut pelopor, dengan semangat gerakannya mahasiswa akan mampu mempercepat suatu perubahan. Namun di atas semua itu mahasiswa harus mempunyai visi kedepan yang baik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat  ini sangat diperlukan suatu kelompok yang siap lebih kedepan, sebagai suatu barisan yang memiliki sikap kritis, cerdas, bermoral dan memiliki idealisme yang tinggi serta kreatifitas dalam mengisi dan menjalani perannya sebagai insan akademis. Peran tersebut dapat dilakukan apabila semua komponen dapat mendukung kinerja mahasiswa (Lembaga Mahasiswa) yang terintegrasi dalam suatu solusi kongkrit dari suatu permasalahan klasik seputar Bangsa dan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar